Bismillahirrohamanirrohim
Sabtu, 13 Januari 2018
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kepada kita semua kaum muslimin untuk memiliki sifat pemaaf. Sepanjang hayat, beliau senantiasa memberikan teladan dalam hal berlapang dada dan memberikan maaf kepada orang yang melakukan kesalahan.
Beliau adalah pribadi yang agung yang memiliki sifat lapang dada, toleran, dan banyak memberikan maaf. Semua sifat agung beliau muncul dari hati yang bersih. Beliau memaafkan sekalipun beliau memiliki kemampuan untuk membalaskan sakit hati beliau. Memaafkan selalu menjadi pilihan utama beliau demi untuk menggapai keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mau memberi maaf di saat dia mampu (membalas), Allah akan mengampuni dosa – dosanya besok di hari yang penuh kesulitan.” (HR. Bukhari)
Ada banyak akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tercermin dalam beberapa peristiwa diantaranya adalah dalam peristiwa Perang Uhud, orang – orang kafir Quraisy berhasil memukul wajah Rasulullah dan memukul kepala beliau hingga darah yang mengalir di wajah beliau, bahkan salah satu gigi geraham beliau pecah. Sebagian sahabat meminta Rasulullah mendoakan kafir Quraisy agar celaka. Namun, Rasulullah justru berkata, “Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai tukang laknat. Aku diutus untuk berdakwah dan menyebarkankasih sayang. Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mempunyai pengetahuan.” Peristiwa lainnya yang mencerminkan Rasulullah adalah seorang yang pemaaf yaitu saat Rasulullah sedang bersujud di depan kakbah, sedangkan kaum kafir Quraisy melemparkan kotoran unta kearah Rasulullah. Namun, pada saat itu juga Rasulullah tidak membalas perbuatan kaum kafir Quraisy, melainkan Rasulullah memaafkan perbuatan mereka dan berdoa kepada Allah.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam selalu mengajarkan umat – umat beliau untuk senantiasa berjiwa besar, memberi maaf, berlapang dada. Semua itu beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari – hari dan menjadi bagian dari kepribadian agung beliau. Beliau adalah orang yang paling banyak berlapang dada dan paling banyak memberi maaf meskipun sesungguhnya di saat yang sama beliau memiliki kemampuan untuk membalas dendam. Maaf yang beliau berikan sungguh – sungguh berasal dari hati yang tulus dan bersih.
Pemaaf adalah akhlak mulia yang hendaknya dimiliki oleh setiap muslim. Hal itu berarti telah meneladani sifat dan perilaku Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, baik itu dalam ucapan maupun tindakan beliau. Namun, dalam hal memberi maaf, setiap muslim wajib tidak melanggar hak – hak Allah Subhanahu wa ta’ala dan mengorbankan agama-Nya.
Allah berfirman dalam surat Al- A’raaf 7 : 199
لْجَاهِلِينَ عَنِ وَأَعْرِضْ بِالْعُرْفِ وَأْمُرْ الْعَفْوَ خُذِ
Artinya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang – orang yang bodoh”
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al – Utsaimin Rahimahullah di dalam syarah Riyadhus Shalihin, Allah ta’ala tidak mengatakan, “Maafkanlah” tetapi “Jadilah engkau pemaaf”. Hal ini karena kata “pemaaf” menunjukkan pemberian maaf yang luas dan berkesinambungan.
Sebagai makhluk sosial, seorang hamba akan senantiasa bermuamalah dengan orang lain yang memiliki karakteristik yang berbeda – beda. Dengan mengikuti petunjuk Allah dalam ayat ini, orang yang menempuh jalan orang – orang pemaaf akan memilih yang termudah bagi orang lain, menerima apa yang datang dari mereka, dan tidak menuntut hak yang diabaikan oleh mereka, kecuali jika hal tersebut bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan Allah Subhana Wa ta’ala.
Seorang pemaaf cukup mengambil jalan yang mudah dalam menyikapi akhlak dan muamalah orang – orang di sekitarnya. Bersikap lapang dada dengan memaklumi ketidaksempurnaan mereka, memaafkan kekurangan dan kesalahan mereka, serta tidak mengharap diperlakukan dengan sempurna. Hal ini akan menjadika hidup kita terasa ringan dan mudah.
Jadi, seseorang yang dikatakan pemaaf apabila ia dengan lapang dada dan penuh keikhlasan menghalalkan suatu tindakan orang lain yang menyakitinya tanpa menyisakan kebencian ataupun keinginan untuk membalas meski sesungguhnya ia mampu untuk melakukannya. Maka dari itu, jika seseorang mengatakan dengan lisannya bahwa ia memaafkan namun jauh di dalam hati masih menyimpan amarah dan kebencian, bahkan merencanakan pembalasan, orang tersebut tidaklah dapat dikatakan sebagai seorang pemaaf. Tidak pula dikatakan sikap pemaaf apabila ia tetap menyimpan amarah di dalam hati sekalipun tidak berencana melakukan pembalasan.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang muslim, Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban).
Rasulullah juga bersabda “ Tidak akan berkurang harta karena sedekah. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Dari kedua sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam di atas, dapat kita mengetahui bagaimana akhir perjalanan seorang yang pemaaf. Hal pertama yang Allah janjikan bagi seorang pemaaf pada hari kiamat nanti ada rasa aman dari kesedihan, kengerian, dan ketakutan. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar pada hari kiamat, mereka disambut oleh para malaikat, mereka dijauhkan dari api neraka dan tidak mendengar sedikitpun suara api neraka. Baginya ampunan besar, maaf, dan pahala yang besar. Baginya kehormatan, dan kemuliaan berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai – sungai.
Maka dari itu jadilah kita seorang hamba yang pemaaf, seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sebelumnya, karena ini merupakan puncak keagungan dari sifat – sifat yang mulia, yang merupakan tempat bermuaranya sifat sabar, menahan amarah, ikhlas, dan lapang dada. Jadilah seorang hamba yang pemaaf, karena itu merupakan sifatnya Allah Subhana wa ta’ala, akhlaknya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sifatnya para nabi dan sahabatnya, dan sifatnya orang – orang saleh, yang mewarisi surga – surga yang didalamnya dipenuhi kenikamatan yang tiada habisnya dan kebahagiaan selama – lamanya.
Rabu, 08 Maret 2017
Guruku
Sabtu, 18 Februari 2017
Aku menunggumu...
Sabtu, 28 Januari 2017
Yakinlah..
Yakinlah...
Sejauh apapun jaraknya. Jika dirimu pantas mendapatkannya.
Maka sejauh apapun jaraknya. Akan tetap kamu dapatkan.
.
Yakinlah, jika dirimu menjaga diri, maka engkau akan dapatkan ia yang juga menjaga dirinya.
.
Yakinlah, jika dirimu melandaskan cintamu karena Allah, maka Allah selalu punya cara untuk mempertemukanmu dengan ia yang juga mencintai karena Allah. Bukan dengan ia yang mencintaimu karena nafsu, bukan juga ia yang mencintaimu namun menyeretmu dalam dosa.
.
Percayalah akan janji Allah, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik begitupun sebaliknya.
.
Tak peduli jika disekelilingmu hanya ada laki-laki ahli maksiat. Tak peduli jika disekelilingmu hanya ada laki-laki yang gemar berpacaran. Tak peduli jika disekelilingmu hanya ada laki-laki yang berakhlak buruk. Dan tak peduli jika dimasjid tempatmu hanya diisi oleh lelaki sepuh.
.
Jika dirimu adalah wanita sholehah maka dirimu berhak dan pantas mendapatkan lelaki sholeh. Dan jika dirimu adalah lelaki sholeh tak peduli jika disekelilingmu hanya ada wanita yang gemar membuka aurat dan wanita yang gemar menggoda laki-laki, maka dirimu tetap pantas mendapat wanita sholehah.
.
Begitupun sebaliknya, tak peduli jika disekelilingmu dikelilingi oleh laki-laki sholeh yang gemar ke masjid, jika kualitas dirimu belum pantas maka jangan harap lelaki sholeh datang melamarmu.
.
Tapi yakinlah, jika dirimu berusaha memperbaiki diri maka Allah akan menghadirkan ia yang juga tengah memperbaiki diri.
.
Tak peduli beratus-ratus kilo jaraknya, tak peduli meski ia berbeda kota, tak peduli meski ia ada di pulau seberang, tak peduli meski ia ada di belahan dunia yang lain. Jika ia pantas untukmu, maka Allah hadirkan cara untuk mempertemukanmu.
.
Untukmu yang saling mencintai berlandaskan cinta kepada Allah.
Untukmu yang memusatkan cintamu kepada Allah diatas segalanya. Untukmu yang menjaga cintamu agar senantiasa dalam koridorNya. Jagalah cintamu karena Allah hingga dipertemukan dengan cara indahNya kelak.
"TEMPAT TERAMAN UNTUKMU CALON IMAMKU"
Aku pernah hendak menuliskan namamu di atas pasir. Namun ketika melihat angin kencang, kuurungkan niat itu karena tahu namamu pasti akan terbang dan hilang bersama kepergiannya.
Lalu aku ingin menulis namamu di atas kertas. Namun ketika melihat betapa tipis dan mudahnya kertas itu robek, kembali kuurungkan niat, namamu pasti akan hilang dan terbuang bersama usangnya kertas itu.
Aku berpikir keras, dimana harus menulis namamu. Dan ah! Kulihat batu besar dan sepertinya cocok, pasti namamu akan selamanya terukir disana. Tetapi ketika melihat masih adanya kemungkinan batu itu terkikis oleh air hujan, lagi-lagi tak jadi aku melakukannya.
Kemudian air dan angin menjadi sarana berikutnya. Namun ketika mencoba menulis namamu disana, aku tahu itu adalah hal sia-sia, tak mungkin menulis apa-apa disana, bahkan sebuah titik pun takkan bisa.
Setelahnya kupilih menuliskan namamu dalam hatiku. Tapi seketika aku tersadar, hati ini adalah tempatnya salah, khilaf, dan dosa. Aku takut jika ada engkau disana, disitulah muncul kesempatan untukku untuk mendekati zina.
Pada akhirnya aku sadar..
Tiada tempat paling aman untuk menuliskan nama indahmu..
Disini..
Didalam do'a pada tiap sujud panjangku..
Pada munajat penuh tangisku pada-Nya..
Do'a adalah satu-satunya sarana abadi untuk menggoreskan tinta emas bertuliskan namamu.
Semoga engkau adalah dia..
Yang Allah takdirkan untuk hatinya menjadi tempatku bersandar..
Semoga engkau adalah dia..
Yang Allah gariskan untuk menjadi imamku di dunia dan akhirat..
Semoga kau dan aku kelak akan menjadi kita (^_^).…
Ternyata, Rasulullah Melarang Meminta Oleh-oleh Dari Teman yang Sedang Berpergian
Meminta oleh-oleh ketika sahabat atau keluarga bepergian sudah seperti tradisi bagi masyarakat saat ini, “Jangan lupa oleh-olehnya ya..” adalah kalimat yang biasa terdengar ketika kita atau saudara akan bepergian.
Tapi apakah anda tahu bahwa Nabi Muhammad melarang seseorang muslim untuk meminta – minta dari orang lain, tanpa terdapat kebutuhan yang mendesak. Perbuatan meminta – minta menggambarkan perbuatan menghinakan diri kepada makhluk dan juga menampilkan terdapatnya kecendrungan kepada dunia dan juga kemauan untuk memperbanyak harta.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan barangsiapa yang melaksanakan perbuatan meminta – minta yang hina ini, hingga ia hendak tiba pada hari kiamat dalam kondisi tidak terdapat sepotong dagingpun yang menempel di wajahnya. Ini bagaikan balasan yang sesuai menurutnya kareka minimnya kerasa malu ia buat meminta – minta kepada sesama makhluk.
“Terus – menerus seorang itu suka meminta – minta kepada teman sampai pada hari kiamat ia tiba dalam kondisi di mukanya tidak terdapat sepotong dagingpun,” (HR. Al – Bukhari no. 1474 dan juga Muslim no. 1725).
“Sesungguhnya harta ini merupakan lezat dan juga manis. Hingga siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, tentu dia hendak menemukan berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, hingga ia tidak hendak menemukan berkahnya, ia seperti orang yang makan tetapi tidak sempat terasa kenyang. dan juga tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” (HR. Al – Bukhari no. 1472 dan juga Muslim no. 1717).
Ringankanlah orang yang menempuh Safar karna safar merupakan potongan dari azab. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Saw bersabda,
”Berpergian (safar) itu merupakan sebagian dari siksa. dia membatasi seorang dari makan, minum dan juga tidurnya. hingga apabila seorang telah tuntas dari urusannya hendaklah dia lekas kembali ke keluarganya,” (HR Bukhari dan juga Muslim).
“Dikatakan penggalan dari azab, karna safar hendak meninggalkan seluruh yang dicintai,” (Fathul Bari, Ibnu Hajar).
Bisa jadi yang diartikan dicintai ini merupakan keluarga yang dia cintai, rumah yang nyaman, ibadah yang teratur, dan juga lain – lain. Sedang tiap ekspedisi tidak terdapat jaminan hendak dapat kembali, kemudian kenapa kita bebani dengan titipan dan juga amanah yang membebani.
Sekadar panduan buat yang bersafar, buat melindungi kerabat kita dari meminta, bila berkelebihan rezeki hendak lebih indah bila kita berikan sedikit oleh – oleh karna tangan di atas lebih mulia.
Dan panduan buat yang menerima oleh – oleh bersyukurlah atas tiap wujud rezeki yang didapat karna dengan bersyukur kita hendak terus menjadi menemukan nikmat yang banyak.